Menuntut Ilmu Pada Seorang Dokter

Bila ingat cita-citaku dimasa kecil, aku selalu berkata :”Aku mau jadi dokter”. Kepada setiap orang yang menanyakan mau jadi apa aku nanti setelah dewasa. Rasanya impian itu selalu aku bawa dalam tidur. Bermain bersama teman-temanpun kami lakukan seperti apa yang biasa dokter lakukan pada pasiennya.

Seorang dokter dapat selalu membantu orang yang sakit. Memberikan pelayanan gratis bagi orang yang tidak mampu. Sebagai gadis kecil, aku selalu beranggapan dokter adalah seorang yang sepesial. Berbaju putih, ramah dan menggunakan mobil kemanapun pergi. Dibandingkan dengan keadaanku saat itu, keluarga kami termasuk kurang sejahtera.

Begitu aku remaja, cita-cita untuk menjadi dokter sirna. Bukan karena cita-cita itu tenggelam, tapi menyadari kemampuan ekonomi kami yang serba kekurangan. Masih untung dapat sekolah sampai SMU, karena esok harinya masih dipertanyakan, “Apakah esok masih ada makanan untuk kami?”

Setelah menikah dan punya 3 orang anak laki-laki, mulailah kembali aku berkenalan dengan dokter. Kami punya langganan seorang dokter spesialis anak, namanya dr. Suryantini.
Setiap kami berkunjung untuk konsultasi atau berobat, maka kesempatan itu aku pakai untuk berbincang-bincang kepada dokter tersebut. Beliau punya satu anak laki-laki, yang bersekolah di Jawa.

Selama ini aku selalu memandang, bahwa dokter itu enak. Pasien di tempat prakteknya sangat banyak. Aku pun menghitung untuk satu pasien Rp. 60.000,-, jika ada 30 pasien berapa pendapatnnya satu bulan.

Pagi pun berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Untuk sekali kunjungan dibayar sekian rupiah. Sehingga aku memperkirakan sekian juta pendapatan dokter untuk satu bulannya. Dibandingkan suamiku, dokter tersebut mendapatkan 10 kali lipat dari pendapatan suamiku per bulannya. ( ini hanya menurut perkiraanku .)
Dokter langganan keluarga kami itu, sebenarnya sangat berjasa besar pada keluargaku terutama pada anak-anakku. Bila mereka sakit, aku selalu menemui beliau. Jika beliau ke luar kota, aku pun tidak segan menelponnya untuk meminta bantuannya. Kami berhubungan kurang lebih 6 tahun. Orangnya ramah, agak tegas. Jika ada orangtua yang kurang memperhatikan kesehatan anaknya, dokter tersebut tidak akan sungkan untuk memarahi.

Setiap kunjungan, seringkali beliau memberikan info-info kesehatan tanpa disadarinya. Misalkan: Jika anak-anak baru panas sehari, jangan langsung diberian obat. Tapi harus banyak diberikan minum dan istirahat yang cukup: Sering batuk-batuk di malam hari, itu bertanda batuknya sesak dan harus segera di bawa kedokter untuk ditangani. Jangan sampai susah bernapas baru ke dokter. Akibatnya bisa fatal: Anak yang hiperaktif adalah anak yang tidak bisa diam lebih dari 5 menit: Atau hal lainnya yang sangat bermanfaat bagi kami.

Kalau menurut saya, pergi ke dokter merupakan saat untuk belajar tentang berbagai penyakit dan ciri-ciri penyakit yang harus diwaspadai. Jadi bukan hanya datang untuk mengobati penyakit, tapi juga menambah ilmu. Sesuai dengan hadits Rasulullah S.A.W: Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki maupun perempuan: Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat.”

Ilmu itu tidak harus hanya tentang agama, tapi juga tentang semua hal. Apakah itu tumbuhan, masak-memasak atau belajar mendidik anakpun perlu ilmu. Setiap saat kita memerlukan ilmu untuk mengelola keadaan kita, agar kita mampu dan cerdas menyikapi persoalan apapun yang kita hadapi.

Maka benarlah jika didalam Al-Qur’an di beritahukan : Maka apakah sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu?

Kembali ke dokter, dokter yang aku kagumi itu banyak menyimpan kepedihan. Beliau bercerita bahwa ada banyak sekali pasien yang datang kepadanya, baik itu yang penyakitnya masih ringan ataupun sudah parah, marah kepadanya dengan berbagai alasan menyatakan ketidak puasan atas pengobatan yang diberikan dokter.. Padahal seringkali beliau menomor duakan keluarganya, karena ada pasien gawat yang tidak boleh ditinggal. Aku merasa terenyuh mendengar curhatnya. Waktu yang dimilikinya sebagian besar untuk pasiennya.

Bayangkan, walaupun dalam keadaan tidur, beliau masih menerima telepon darurat! Keluar kotapun beliau tetap dapat dihubungi. Aku sesungguhnya kasihan padanya. Jika dibandingkan denganku, waktuku sebagian besar untuk keluargaku.

Orang tuanya sakit keras di Jawa, tapi beliau hanya menungguinya satu minggu. Pasiennya banyak menantikan pertolongannya. Dilema yang dialaminya sungguh berat, antara bakti kepada orangtua atau melayani masyarakat. Jadi tidak salah ketika pada suatu kesempatan beliau mengatakan :”Jika orang tahu bagaimana sibuknya kita menjadi seorang dokter, tentu tidak ada yang mau anaknya menjadi dokter!”.

Sang dokter juga menceritakan keharuannya, ketika ada seorang bapak yang datang membawa hasil kebunnya, berupa jagung. Bapak tersebut mengucapkan terima kasih atas bantuan dokter tersebut. Bapak tersebut menyatakan hanya jagung yang dapat diberikannya, karena dia hanya seorang petani.

Begitulah dalam hidup. Seringkali kita kecewa dengan pelayanan seseorang, karena kita merasa telah membayar sejumlah uang. Padahal sebagai seorang muslim yang baik, tentunya kita harus berbicara yang ma’ruf atau diam.

Hargailah usaha seseorang untuk menolong kita, bagaimanapun hasilnya. Karena Allah pun menilai hambanya dari usahanya, bukan hasil akhir dari usahanya tersebut.
sumber Eramuslim.com

1 Comment (+add yours?)

  1. Trackback: Menuntut Ilmu Pada Seorang Dokter | gajecommunity

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: