Kaya atau Miskin, manakah yang lebih baik ?

kaya atau miskin

kaya atau miskin

Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari tulisan Salim A Fillah dibukunya Lapis Lapis Keberkahan
Saya baru selesai membaca bagian tentang rizqi.
Dan saya semakin merasakan tulisan itu masuk kedalam dunia yang saya lihat..

Saya pernah bertamu ke keluarga yang sederhana. Rumahnya, suasananya..
Namun akhlaq orangtua dan anaknya adalah khair. Bagus. Ketika azan berkumandang, sang ayah lantas segera pergi ke masjid terdekat. Begitu pula ibu dan anaknya yg langsung menunaikan shalat. Subhanallah..

Di lain kesempatan saya teringat di sebuah rumah lain, yang serba berkecukupan, tv nya terdapat channel dari berbagai negara, sofa dan kasur empuk, gadget dgn banyak hal menarik, makanan yang serba wah. Tetapi ketika azan berkumandang, sang ayah jarang sekali pergi ke masjid untuk shalat berjamaah, ibu masih sibuk dengan pekerjaannya, anak-anak ada yang masih bermain dengan gadgetnya atau menonton bioskop tv yang saking asyiknya, membuat mereka lalai. Shalat jadi diulur ulur. Mungkin baru sejam setelah azan barulah shalat.
(Astaghfirullah, peringatan buat saya juga)

Dan tahukah apa bedanya dari keluarga yang kaya dan kurang itu -dari segi harta

Jelas bedanya adalah keimanan

Jadi miskin lebih baik? Bukan. Bukan itu maksud saya.

Jadi teringat dalam buku salim A fillah, ada kisah seorang ulama yang dicegat yahudi miskin. Ia bertanya dalam sebuah hadits “dunia adalah surga bagi orang kafir dan penjara bagi org mukmin”
Yahudi itu bilang kalau ia miskin berarti ia mukmin. Dan ulama itu kaya berarti ia kafir.
Namun jawab ulama itu bukan begitu maksudnya.
Penjara bagi mukmin karena ia tahu bahwa kenikmatan dunia tdk ada apa2nya dibanding surga. Dan surga bagi org kafir karena apa2 yg dirasakan didunia adalah lebih baik dr adzab keras di neraka.
Akhirnya yahudi itu pun masuk Islam karena takut akan penderitaan di neraka yang menyala.

Lalu manakah yg lebih baik?kaya atau miskin?
Lagi lagi
Itu semua tergantung keimanan
Bagaimana ia menyikapinya…

Dalam buku lapis lapis keberkahan, ada sebuah tanya jawab tentang hal itu.
Ketika seorang alim, Imam Sufyan Ats-Saury ditanya tentang “manakah yang lebih baik, orang miskin yang sabar, atau orang kaya yang bersyukur?”

Maka ia menjawab:
Baca surat ‘Shaad’ dalam al quran.
“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, putranya Sulaiman. Dialah sebaik baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada Tuhannya.” (Qs.Shaad: 30)

Dilain ayat
“Sesungguhnya Kami dapat Ayyub sebagai orang yang sabar. Dialah sebaik baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada Tuhannya.” (Qs.Shaad: 44)

Sulaiman AS adalah org yg amat kaya. Bahkan kerajaannya tak pernah tersaingi hingga hari akhir. Ia dapat memerintah bangsa jin bahkan hewan. Namun ia adalah hamba yang amat bersyukur dan taat kepada Allah..

Sedangkan Ayyub AS saat sakit adalah org yg tidak punya apa2, sakit keras hingga istrinya menjauhi dirinya. Namun ia adalah hamba yang amat bersabar lagi taat kepada Allah..

Maka lagi2 keimanan jawabannya..

Jadi kaya atau miskin maka berusahalah agar kebutuhan kita tercukupi. Sisanya adalah tawakkal.
Sebanyak atau sedikit harta yang kita miliki kuncinya adalah qanaah. Merasa cukup atas pemberian Allah. Maka kita akan merasa tercukupi.

All from Allah. All back to Allah..

Rezeki dimana saja maka jagalah selalu kehalalannya..
insyaallah barokah..

Dan sesungguhnya kaya itu bukanlah harta, tetapi kekayaan sejati berada di jiwa..

Ittaqullah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: