Hati yang Memancarkan Cahaya Iman

Hati yang dipancari oleh Nur Iman akan dapat mengendalikan akal yang selalu cenderung pada kehendak hawa nafsu dan akan membawa akal itu ke arah menginsyafi diri kita, bahwa kita merupakan makhluk yang berkewajiban untuk memuliakan dan mematuhi segala perintah Sang Khaliq yang telah menciptakan kita.

Hati yang sifatnya selalu ingin menjaga kesucian dari pencemaran tipu daya akal dan hawa nafsu hendaklah selalu dijaga benar-benar agar posisinya senantiasa berada diatas akal dan hawa nafsu, sebab bila ia dapat dipengaruhi oleh akal akan hilanglah kesucian hati dan timbullah kotoran yang menempel pada hati, sehingga cahaya Iman akan sulit untuk masuk kedalam hati. Oleh karena itu bila tujuan hati selalu bertautan dan berhubungan atau selalu berzikir kepada Allah dan segala apa yang ia lakukan semata-semata bertujuan hanya untuk Allah, ia akan mendapatkan nilai dan sanjungan dari Allah, karena Allah menilai segala ibadah yang dilakukan hambanya bukan karena ia bagus dalam bacaan sholatnya atau lainnya, tetapi Allah menilai segala amal ibadah itu dari segi ihsan, ketulusan atau keikhlasan hatinya.

Apabila gerak hati itu menuju kepada sanjungan dari selain Allah, maka amal ibadah itu akan menjadi tak berharga dihadapan Allah, karena dihatinya ada penyakit, seperti ujub, riya’ atau pamer yang membuat hati itu menjadi rusak disebabkan oleh sifat ke akuan dalam dirinya, sehingga Allah pun enggan menerima segala kebaikannya.

Allah Swt. berfirman :
“Maka celakalah orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya, orang-orang yang berbuat riya’, dan enggan menolong dengan barang yang berguna.” (QS. Al Ma’un : 4-7)

Maksud dari ayat diatas adalah bahwa sholatnya dilakukan karena bukan karena Allah atau lalai hatinya dari mengingat Allah, yaitu hatinya kemana-mana.

Pada hatilah terletak tumpuan segala harapan, karena hati dapat meneropong kealam gaib, yaitu alam yang tidak dapat dianalisis oleh akal, tidak dapat dilihat oleh panca indera (mata zahir). Oleh karena itu jika kita telah mendapatkan manisnya iman, itulah yang dinamakan rasa hati (zug).

Hati dan akal selalu bertentangan, jika akal berkata, hidup ini tak memerlukan apa-apa, cukup berbuat kebaikan maka selamatlah kita dan meninggalkan nama yang harum, tidak ada persoalan lagi, karena jasad sudah hancur dimakan tanah. Tetapi hati berkata lain, Hidup ini dari mana, hendak kemana, dan untuk apa?.

Oleh karena itu perlulah sekiranya jika kita menanam pohon keimanan yang kuat untuk dapat membuahkan amal perbuatan yang baik dan sempurna, yang pastinya bahwa hati yang dipancari Nur Iman adalah hati yang tenang, yaitu hati yang selalu mengingat (berzikir) dengan menyebut “Allah… Allah” dalam hatinya sehingga Allah ridho kepada kita.

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepad Tuhanmu dengan hati yang damai dan diridhoi-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr :27-30)

Demikianlah kalau iman telah tertanam di hati kita, kekhusukan dalah ibadah dan kesempurnaan perilaku akan memicu kekuatan iman dan hati pun akan bercahaya.

sumber

3 Comments (+add yours?)

  1. techan (@techan_mafia)
    Sep 29, 2011 @ 23:26:00

    Subhanolloh ..
    sholat saya msh blm bner ..
    Ya Alloh … tp jgn smpe ninggalin sholat …
    blog anda membantu sekali … yaaaa dakwah melalui media lebih baik drpd tdk berdakwah sama sekali

    Reply

  2. Abdullah Arnando el-Aji SAputro
    Feb 03, 2012 @ 13:13:13

    ijin bertamu…^-^

    Reply

  3. vava
    Jul 29, 2012 @ 07:16:17

    mksh ya kk….^-^
    jazakumullah khairan.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: