Harta: Mengapa Kita Harus Berkecukupan ?

sunset in ortakoy

“Money makes your life easier. If you’re lucky to have it, you’re lucky”

Buat sebagian orang, uang itu enggak penting. Sayangnya, hampir semua yang penting-penting butuh uang. Seenggaknya untuk tiga kebutuhan paling dasar: sandang, pangan, papan. Ada penganan untuk dimakan, pakaian untuk dikenakan dan bangunan untuk berkesibukan. Tapi, kebutuhan enggak berhenti di situ. Kita juga berencana untuk berpasangan, berketurunan dan bertualangan. Untuk ketiganya, diperlukan simpanan.

Pernahkah di satu waktu kamu cicipi dua kenyataan? Ibarat mata koin yang berdempetan tapi wajahnya berlainan. Legit juga pahit. Saya pernah, rasanya unik.

Di satu sisi, seorang sahabat baru aja menuntaskan rasa cemas di momen kelahiran anak perdana. Lega nan bahagia. Untuk biaya bersalin, pos khusus disisihkan secara berkala dari kantong pribadi. Saat proses menegangkannya usai, puluhan juta rupiah harus dibayarkan untuk ongkos persalinan dan pengobatan. Jumlahnya memang enggak kalah menegangkan. Namun, cuma bermodalkan ketegangan enggak serta merta melunaskan tagihan. Tetep. Harus ada duit.

Di sisi sebaliknya, seorang pekerja bangunan langganan keluarga mendadak mampir ke rumah untuk mengadu penuh sendu. Ia tengah dilanda kerepotan hebat selepas persalinan sang istri. Bayinya terlahir sungsang sehingga harus ada dana tambahan untuk memuluskan kepulangan istri dan anak tercinta ke rumah kontrakan.

Di lubuk hatinya yang terdalam, ia bingung dan malu. Bingung harus mengupayakan pinjaman kemana dan malu karena akhirnya kepada kamilah ia memohon iba. Raut wajahnya nelangsa. Lisannya terbata-bata bercerita tentang ketidaksanggupannya membayar beban sebesar empat juta. Iya, empat juta. Harga yang enggak lebih mahal dari ponsel pintar yang kita semua punya. Jumlah yang cuma sepersekian saldo tabungan kita.

Dua orang di dua kenyataan sama-sama resmi jadi bapak, tapi urusan duit membedakan jalan cerita. Mereka yang mampu, dilimpahkan kelancaran. Mereka yang enggak mampu, dilimpahkan ketabahan. Biarpun, mutlak harus ada dana yang besarnya butuh bertaun-taun menabung untuk pengeluaran persalinan. Besaran angka yang mahalnya enggak terduga namun sepadan untuk keistimewaan menimang keturunan.

Dulu saya heran dengan alasan untuk jadi berkecukupan. Kenapa harus sejahtera? Kalau motifnya kebahagiaan, toh banyak yang kaya tapi enggak sentosa. Lagian kalau kebutuhan udah terpenuhi untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga, keinginan kan harusnya selesai. Ada sebagian yang enggak mau numpuk harta banyak-banyak. Secukupnya, katanya. Tapi apadaya kalau keinginannya enggak pernah selesai. Jadinya, enggak pernah cukup karena keinginan selalu membalap kebutuhan.

“Pa, kenapa kita harus berkecukupan?” tanya saya penasaran di satu sore. “Enggak akan ada habisnya kalau kamu cuma ingin sejahtera sendirian. Alasan kenapa kita harus berkecukupan, biar bisa mencukupi orang lain” jawab papa.

Nyatanya, mementingkan diri sendiri enggak akan ada ujungnya sejak kita tercipta sebagai makhluk yang enggak pernah puas. Bukankah harta adalah titipan-Nya untuk bekal tinggal di dunia yang sementara? Kenapa harus menggilai sesuatu yang enggak dibawa mati? Berharta dengan bijak berarti melibatkan pikiran sehat untuk menjauhi keserakahan dan mau mengalokasikan pundi demi maksud berbagi.

“Never respect men merely for their riches, but rather for their kindness; we don’t value the sun for its height, but for its use”. Harta ialah benih penuh guna untuk disebar pada ladang kebermanfaatan yang bisa menghidupi orang lain. Dengan benih dan cara tanam yang baik, besar kemungkinan untuk kita bisa memanen hal baik. Investasi kebaikan. Juga sebaliknya. Berharta bukan karena ingin ditinggikan, tapi karena harus memberdayakan.

Betapa panjang jalur distribusi rejeki yang datang dari-Nya, betapa banyak manusia yang berpartisipasi jadi perantara dalam penambahan tiap sen uang kita. Andai kita lebih sering inget betapa ajaibnya kisah para dermawan yang semakin mapan, malah semakin rajin menyalurkan bantuan. Semakin rajin menyalurkan bantuan, malah terus tambah mapan. Mungkin kita cuma lupa, kalau urusan rejeki sepenuhnya enggak pernah masuk dengan itungan logika.

Kenapa harus takut pada kemiskinan saat kita menghamba pada Dzat Yang Maha Kaya. Percayalah, berupayalah.

source: satriamaulana.tumblr.com

2 Comments (+add yours?)

  1. radevade
    Nov 05, 2015 @ 12:58:39

    hari ini dapat pelajaran bru lagi dari mbak mengenai nilai kehidupan . Setuju dgn nasihat ortu mbak,kita harus jadi org mampu tuk membantu yang kurang mampu🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: